Kebermanfaatan Mu yang Ibu Minta

Seperti anak normal pada umunya, membahagiakan orang tua telah menjadi salah satu impian saya. Namun, selama usia sekolah, impian tersebut terasa sangat abstrak, bahkan  seperti tidak mungkin. Hingga suatu ketika saat saya mulai berada di jenjang kuliah, saya dan ibu, yang lebih sering saya sebut “mamah” terkadang melakukan banyak pembicaraan.

Banyak topik yang kami bicarakan, bahkan sampai menyinggung aktifitas kampus yang saya jalani. Mamah pernah mengatakan, beliau sudah cukup sabar dengan ‘kelakuan’ saya yang sering mengambil amanah di luar rumah. Seringkali, karena amanah yang ada, saya  harus pulang seminggu sekali ditambah aktifitas pada hari sabtu dan minggu. Waktu di rumah menjadi sangat sedikit. Kegiatan itu meliputi amanah saya sebagai kepala departemen humas dan media Formasi Tarbawi, anggota Public Relation di FIP English Club, serta menjadi mentor keagamaan di kegiatan ekstrakurikuler Rohis di SMPN 1 Bojonggede, dan di lingkungan rumah saya. Mamah sedikit mengenang masa lalu saat saya masih beraada di SMP dan SMK. Kondisi kesibukan saya yang seperti itu sudah dirasakan oleh mamah sejak dulu.

Seiring berjalannya waktu, mamah kemudian mulai tahu dan menyadari benang merah dari semua kegiatan saya. Walaupun beliau tidak pernah tahu persis apa motto hidup saya, beliau telah paham dan diam-diam merestui dan bahkan meminta saya untuk senantiasa menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Mamah juga pernah mengatakan, “Insya Allah mamah dukung kamu untuk belajar di mana saja bahkan setinggi apapun, tapi mamah minta kamu tetap jadi anak yang shaleha dan harus kembali ke masyarakat untuk bermanfaat bagi mereka, itu cukup nak, mamah tidak perlu harta mu”. Setelah mamah mengatakan hal itu, kini terasa jelas bagi saya untuk melakukan sesuatu yang membuat beliau bahagia sebagai orangtua. Alhamdulillah, saya bersyukur kami sudah kompak dalam hal ini. Semua kegiatan yang saya lakukan, saya upayakan untuk memberikan manfaat kepada organisasi dan orang-orang di sekitar saya.

Sekarang saya hanya bisa berharap, usaha saya untuk turut mengembangkan organisasi bisa membahagiakan orangtua saya, kegiatan mentoring keagamaan yang saya lakukan bisa memberikan senyum di wajah mamah, dan rasa berbakti yang berusaha saya imbangi dengan amanah bisa membuat beliau tenang. Semoga visi saya dalam membangun peradaban yang berkepribadian Islam dapat memenuhi salah satu impian saya, yaitu membahagiakan orangtua.


Saya tidak pernah menganggap syarat bahagia bagi kedua orangtua saya itu terlalu sederhana, justru itu kaya makna serta penuh dengan tanggung jawab. Amanah itu akan selalu ada sepanjang hayat. Pada lingkup keluarga, saya harus menjadi anak yang shaleha, berbakti, dan mampu menyelesaikan tugas rumah yang kadang memberatkan orangtua untuk dikerjakan sendiri. Selain itu, pada lingkup lingkungan sekitar, saya harus bertanggung jawab pada kegiatan kajian keagamaan adik-adik di kampus, di sekolah, bahkan di lingkungan rumah. Bahkan, untuk mampu bermanfaat bagi masyarakat luas, saya harus turut serta dalam pengembangan kesejahteraan dalam akses pengetahuan hingga kemandirian ekonomi.

Semua itu memang nampak sulit, namun banyak hal yang bisa dilakukan dari sekarang untuk mencapainya. Kini, saya sudah mencoba untuk memberikan pada lingkup terkecil di sekitar saya. Untuk mempelajari cara agar dapat masuk ke masyarakat, saya pernah mengikuti kegiatan community development dengan kegiatan sosial dan pendidikannya. Mungkin nanti di masa depan, saya bisa mengembangkan sekolah dan perpustakaan bagi masyarakat yang membutuhkan, serta terus mengajarkan kebaikan serta agama kepada mereka.

“Mamah maunya kamu bermanfaat bagi orang banyak, Nis”, satu kalimat ini yang akhirnya keluar dari bibir indahnya. Saya berharap, apa yang beliau minta dari saya, bisa saya wujudkan. Semoga yang sedang saya usahakan, termasuk ke dalam bentuk kontribusi nyata dalam membangun bangsa. 

(essai untuk Beasiswa Bazma Pertamina 2017 dengan tema Inilah saya bagi keluarga dan kontribusi yang telah, sedang, dan akan saya berikan untuk Indonesia. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keinovasian Facebook Sebagai Tempat Belajar : Pendapat Dalam Perpektif yang Berbeda

Inspirator & Kepekaan Hati